Senin, 17 Desember 2007

MENUMBUHKAN WIRAUSAHA SOSIAL


Wirausahawan sosial bermakna seseorang yang memiliki visi, kreatifitas dan komitmen yang luar biasa untuk melakukan perubahan-perubahan maupun upaya untuk mengatasi permasalahan yang ada di sekelingnya. Mereka mengabdikan kemampuannya untuk memperkenalkan solusi baru terhadap masalah-masalah sosial.

Wirausaha sosial mulai populer akhir-akhir ini, terutama setelah terpilihnya Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh sebagai pemenang hadian Nobel Perdamaian tahun 2006. Kemenangan M.Yunus menyadarkan banyak orang bahwa usaha-usaha Perdamaian tidak semata-mata berkaitan dengan upaya meredam ketegangan bersenjata antar pihak, tapi juga bagaimana mengentaskan kemiskinan yang ada di sekitar kita. Praktek pemberian kredit untuk warga miskin yang berjalan lancar selama 30 tahun sekaligus mematahkan argumen pihak perbankan yang selalu memberi alasan orang miskin tidak bankable, tidak punya jaminan dsb, untuk tidak berani memberi pinjaman kepada orang miskin. Padahal justru karena miskinlah maka seharusnya pihak bank memberi pinjaman dan membantu cara mengelola keuangan agar mereka mampu keluar dari lingkaran kemiskinan yang melingkupinya dari generasi ke generasi. Di sisi lain , pihak perbankan mau memberikan pinjaman bernilai milyaran hingga trilyunan rupiah kepada pengusaha yang ujungnya berakhir sebagai kredit macet.

Di tingkat lokal, salah seorang yang juga mendapat penghargaan dari Ashoka Foundation sebagai wirausaha sosial adalah Santoso, pendiri Kantor Berita 68H. Pada era Suharto, stasiun radio swasta tidak diperkenankan untuk memproduksi berita. Semua radio harus merelai siaran berita yang dipancarkan oleh RRI. Bermula dari ide di selembar kertas yang disampaikan ke beberapa rekan kerjanya, Santoso memulai kantor berita yang mula-mula direlai oleh 7 stasiun radio pada tahun 1999. Kini sudah ada sekitar 500 stasiun radio yang bergabung dalam jaringan 68H di seluruh Indonesia dengan pendengar sekitar 13 juta orang. Selain itu, KBR 68H juga aktif membantu perintisan radio-radio di daerah -daerah terpencil di Papua dan Maluku, juga membangun kembali stasiun-stasiun radio yang rusak akibat bencana. Pembangunan stasiun radio juga berarti membangun infrastruktur dan sumber tenaga listrik untuk pemancar. Saat ini , KBR 68H sudah mulai menjalin hubungan dengan stasiun radio dan televisi di luar negeri. Atas usahanya tersebutlah, Santoso memperoleh Fellowship Ashoka 2006.

Di masa depan, sesungguhnya dibutuhkan lebih banyak wirausaha sosial yang mampu melihat solusi dari sekian banyak permasalahan yang melingkupi negeri ini. Permasalahan sempitnya lapangan kerja, lulusan perguruan tinggi dan sekolah menengah yang kurang memiliki keterampilan, penggundulan hutan, sulitnya mendapatkan modal untuk memulai usaha,dll, merupakan masalah yang tak henti mendera. Di sinilah dibutuhkan individu-individu yang memiliki jiwa wirausaha sosial yang tangguh dan konsisten. Diperlukan M.Yunus muda dan Santoso-santoso lain untuk menjawab persoalan ini. Andakah orangnya?

Senin, 10 Desember 2007

MEMBANGUN BISNIS DARI HOBBY


Seringkali kita diperhadapkan antara 2 kenyataan yang melahirkan dilema : apakah kita akan menggeluti hobby kita yang menghabiskan waktu dan dana, atau membangun bisnis yang menghasilkan uang meski tidak sesuai dengan hobby kita. Hobby jelas bisa diolah menjadi bisnis, tapi hasilnya belum tentu mampu menopang hidup kita sepenuhnya. Di sinilah masalahnya: hidup tertekan demi hobby , atau hidup lumayan dengan mengubur habis hobby kita itu.

Terlepas dari 2 pilihan di atas, mungkin kita tetap bisa menjalaninya secara bersamaan sembari perlahan-lahan mengembangkan kreatifitas agar keduanya bisa saling menopang. Hobby bahasa misalnya, bisa dijadikan bisnis dengan mulai mengajar dari sedikit murid. Seiring waktu dan pengalaman yang bertambah, kita bisa menjadikannya menjadi kursus yang lebih formal dengan fasilitas yang lebih besar dan lengkap.Infrastruktur berupa gedung dan peralatan audio visual ,laboratorium, perpustakaan, bisa kita tambah perlahan-lahan. Demikian juga kurikulum bisa diperkaya dengan perbandingan kurikulum maupun hasil yang didapat dari pengalaman.

Beberapa perguruan/lembaga pendidikan yang ada saat ini sebenarnya didirikan atas hasrat dan minat yang tinggi pada pendidikan. Dari bidang ini, usaha mereka kemudian berkembang, walaupun core bisnisnya tetap lembaga pendidikan. Primagama, misalnya, berhasil memperluas line bisnisnya menjadi aneka rupa bisnis: restoran, ritel,dll.

Untuk mencapai skala yang lebih besar , mungkin perlu dibuat perencanaan jangka panjang, menengah dan pendek. Harus ada tenggat waktu untuk mencapai target-target tertentu . Misalkan sebuah kursus bahasa Inggeris yang dimulai dari murid di bawah 10 orang. Mungkin bisa dibuat target 1 tahun ke depan memiliki 50 orang siswa, tahun kedua 100 -150 orang dsiswa bahasa Inggeris. Di tahun ketiga jenis kursus bisa diperluas menjadi 2-3 jenis kursus, misalkan ditambah kursus komputer dan bahasa Perancis.

Kursus komputer bisa dimulai secara terpisah berupa kursus MS. Office, Excel, word, Power Point. Bisa juga dibuat paket kursus Bahasa Inggeris + Komputer. Tujuannya adalah melengkapi siswa dengan kemampuan berbahasa secara aktif serta juga mampu mengoperasikan komputer yang umum dipakai dalam urusan kantor. Dengan menggabungkan kedua skill ini, siswa diharapkan mampu bersaing dalam dunia pekerjaan.

Pengembangan kursus komputer bisa dilakukan dengan menambah penawaran kursus , misalkan kursus pemograman menggunakan bahasa Visual basic, C++,Delphi,dll. Di bidang hardware, bisa dibuat kursus merakit dan mereparasi komputer. Arahnya adalah menyiapkan siswa untuk mampu bekerja mandiri setelah usai menjalani kursus. Siswa yang sudah mengikuti kursus pemograman diharapkan menjadi programmer handal. Demikian juga siswa hardware, diharapkan menjadi teknisi handal yang banyak dibutuhkan.

Kunci utama kesuksesan lembaga pendidikan adalah mampu bertahan seiring waktu, sebab orang umumnya lebih percaya dengan lembaga yang sudah lama berdiri dan memiliki banyak pengalaman. Reputasinya akan meningkat bila para alumni lembaga tersebut memiliki karir dan prestasi yang bagus di masyarakat. Jadi, teruslah berjuang...!

Jumat, 09 November 2007

BISNIS BERBASIS ILMU PENGETAHUAN


Bisnis saat ini tak lepas dari pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan yang berkembang di segala bidang. Fenomena ini bisa dilihat dari meluasnya penggunaan komputer dan HP dengan kecepatan yang luar biasa dalam waktu yang relatif singkat. Yang menarik, peningkatan teknologi tersebut justru diikuti dengan penurunan harga. Artinya, di masa depan kita akan semakin mudah mendapatkan produk berteknologi tinggi dengan harga yang relatif terjangkau.

Beberapa entrepreneur yang maju saat ini berlatar belakang dari bidang teknologi. Bill Gates, Steve Apple, adalah nama yang sudah mendunia di bidang komputer. Bisnis yang mereka bangun semata-mata dibangun dari keyakinan dan komitmennya pada teknologi dan bagaimana teknologi tersebut bisa dinikmati masyarakat luas.
Jepang adalah negara yang dikenal sangat kuat dalam penelitian dan manufacturing bidang teknologi, mulai dari otomotif, teknologi audio visual,dll. Keunggulan Jepang dalam teknologi telah membawanya menjadi negara maju yang jauh dari krisis ekonomi sebagaimana negara maju lain yang lebih banyak mengembangkan ekonomi 'buble": bursa saham, komoditi berjangka, dll.

Untuk bisa maju dalam bisnis dalam bidang teknologi, maka diperlukan kemauan kuat dan komitmen untuk terus menggali ilmu pengetahuan yang terus menerus berkembang. Teknologi HP yang saat ini ada, akan terus berkembang hingga batas tak terbayangkan. Kemauan untuk mendalami, dan senantiasa jeli melihat peluang yang ada akan tetap membuka kemungkinan untuk masuk dan berhasil dalam bidang ini.
Negara-negara industri baru seperti Korea dan Taiwan telah mulai masuk dan memimpin dalam teknologi televisi layar datar dan komputer. Produk televisi flat LG dan Samsung saat ini tergolong dalam barisan pionir teknologi tersebut. Demikian juga komputer Acer dari taiwan sudah masuk dalam merk top komputer di dunia. Ke depan, India akan menjadi pemimpin dalam bidang software dan program komputer. Saat ini Cina pun telah mulai masuk pasar komputer dunia lewat brand Lenovo, meskipun merupakan akuisisi dari perusahaan komputer Amerika.
Dari seluruh paparan di atas, kita memperoleh keyakinan bahwa mendedikasikan diri dalam bisnis yang berbasis ilmu pengetahuan akan memberikan masa depan yang cerah. Berlainan dengan bisnis lain yang berdasar sumber daya alam yang prospeknya akan semakin kelam seiring dengan eksplorasi tanpa batas, bisnis berbasis teknologi justru akan semakin memperkaya kemungkinan-kemungkinan yang bisa kita manfaatkan dengan eksplorasi tanpa henti.


Senin, 29 Oktober 2007

MEMBANGUN JIWA WIRAUSAHA



Penulis buku terkenal Robert Kiyosaki dalam bukunya Cashflow Quandrant (Pustaka Gramedia) menyatakan bahwa pada dasarnya pekerjaan dapat dibagi dalam 4 jenis : Employee (menjadi pegawai di perusahaan atau di pemerintahan), Self Employee ( membuat pekerjaan sendiri sesuai keahlian, misalnya dokter, pengacara), Business Owner (wirausahawan, menciptakan suatu sistem dan menggaji orang lain untuk menjalankannya), dan Investor (melakukan investasi, membiarkan uang yang bekerja untuk kita). Employee dan Self Employee termasuk dalam kuadran kiri, sedang Business Owner dan Investor termasuk dalam Kuadran kanan. Menurut Kiyosaki, agar kita bisa dalam kebebasan finansial, maka kita tidak cukup berada di kuadran kiri, tapi harus berusaha masuk ke kuadran kanan. Pada kuadran kiri, pemasukan kita sepenuhnya tergantung pada usaha kita sendiri, sedang pada kuadran kanan pendapatan kita berasal dari sistim yang kita ciptakan dan uang yang kita investasikan.

Untuk masuk ke kuadran kanan sebagai Business Owner, maka diperlukan pengetahuan mengenai sifat-sifat dan watak yang diperlukan menjadi seorang pemilik usaha yang sukses. Selain itu perlu juga diketahui bagaimana latar belakang para pemilik usaha yang berhasil dan bagaimana mereka menjalankan usahanya. Tulisan singkat ini mencoba mengenali hal-hal tersebut sebagai panduan untuk yang bermaksud memulai usaha sendiri.

· Apa ciri-ciri seorang yang berjiwa wirausaha?

Menurut Geofffrey Meredith et al, dalam buku Kewirausahaan (Penerbit PPM,2002) profil seorang wirausahawan bisa dilihat dari ciri-ciri serta watak antara lain : Percaya diri (misalnya watak Keyakinan, ketidaktergantungan), Berorientasikan tugas dan hasil (kebutuhan akan prestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energitic dan inisiatif), Pengambil resiko (kemampuan mengambil resiko, suka pada tantangan), Kepemimpinan (Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain, menanggapi kritik dan saran), Orisinalitas (inovatif dan kreatif, fleksibel, serba bisa), dan Berorientasi ke masa depan (Perseptif).

· Mengapa wirausahawan sukses terjun jadi wirausaha?

Banyak alasan mengapa para wirausahawan sukses masuk ke dalam dunia usaha. Bagi Bob Sadino, hal itu didasari keinginan untuk Merdeka. Merdeka dalam arti bebas dari perintah orang lain dan bebas untuk menentukan rencana sendiri. Didasari keinginan untuk merdeka tersebut, Bob Sadino meninggalkan pekerjaan di PT Djakarta Loyd, dan memulai usaha menjual telur kebutuhan para ekspatriate yang tinggal di kawasan Kemang. Bob, sebagaimana anda tahum sekarang memiliki jaringan Kem’s Chick.

Bagi Sofyan Ponda, pendiri jaringan Hotel Sofyan Groups, sebagaimana dipaparkan dalam bukunya Sofyan Ponda, pendiri Hotel-hotel Kecil (1992) yang ingin dicapainya dalam bisnis adalah kepuasan. Untuk itu Sofyan rela meninggalkan jabatannya di Departemen Keuangan di akhir tahun 60-an dan memulai bisnis Hotelnya dengan menjadikan rumahnya di Jl. Gondangdia 108 menjadi Losmen (sekarang jadi Hotel Menteng).

· Bagaimana mereka membangun keberhasilan?

Roma tidak dibangun dalam sehari. Analogi yang sama juga berlaku bagi sebagian besar para entrepreneur. Proses jatuh bangun membangun usaha selama puluhan tahun adalah gambaran umum wirausahawan besar. Umumnya mereka memulai dari tangga yang paling bawah dengan cucuran keringat dan air mata. Sebutlah Bob yang mulai menjual telur dari rumah ke rumah. Atau pendiri perusahaan Farmasi Konimex, Djoenaidi Josoef, yang memulai dengan menjual obat di toko ayahnya. Agung Laksono, Ketua DPR dan pemilik beberapa perusahaan seperti AN-TV, perusahaan penerbangan Adam Air, dll, memulai bisnisnya dengan mendirikan bisnis Cleaning service sebelum tamat kuliah di Fakultas Kedokteran UKI pada awal tahun 70-an. Purdi Chandra, memulai usaha bimbingan belajar Primagama dengan hanya punya dua murid pada awal tahun 80-an. Sekarang jaringan franchisee Primagama sudah tersebar di seluruh Indonesia.
Semua ini membuktikan bahwa ada proses yang panjang dan berliku yang harus dilalui sebelum tumbuh menjadi bisnis yang besar dan kuat. Dalam proses ini terdapat banyak kerikil-kerikil dan jalan yang licin dan terjal yang mesti dihadapi. Justru semua rintangan ini nampaknya menjadi suatu pemacu mereka untuk lebih giat dan matang dalam mengarungi dunia usaha.

Kembali ke pendapat Kiyosaki mengenai empat kuadran pekerjaan, tidak dapat dipungkiri bahwa kita sulit untuk berada dalam kebebasan finansial jika tetap bertahan di kuadran pertama sebagai employee. Tingkat persaingan usaha yang keras yang membuat kita senantiasa terancam kehilangan pekerjaan, tingkat inflasi dan kenaikan harga yang jauh melebihi kenaikan gaji, aneka ragam pajak yang harus kita bayar membuat pilihan berlama-lama sebagai pegawai bukan lagi pilihan yang aman. Kita harus mulai masuk ke kuadran kanan, sebagai business owner atau investor. Prosesnya bisa perlahan-lahan, tidak harus drastis. Namun yang pasti kita harus memulai. Selanjutnya, kita tinggal mengarungi suka dukanya, seperti yang sudah dijalani oleh mereka yang telah lebih dahulu berhasil. Bagaimana menurut anda?